Penampilan seni tubuh pada gelaran Waringin Sasmita 2 bertema "Jaga Jagad" di kawasan Goa Selomangleng, Kediri, Minggu 25 Oktober 2026.
KEDIRI, METROTV.asia — Gelaran Waringin Sasmita 2 yang berlangsung di kawasan Goa Selomangleng, Kediri, Minggu (25/10/2026), menjadi ruang pertemuan seniman lintas daerah untuk merawat kebudayaan, mempererat persaudaraan, dan menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Mengusung tema “Jaga Jagad”, kegiatan ini menghadirkan beragam ekspresi seni yang sarat pesan kemanusiaan dan pelestarian alam.
Seniman dari Yogyakarta, Semarang, Kediri, Blitar, Ngawi, Magelang, Bandung, hingga Jakarta turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berkumpul dalam suasana guyub rukun melalui pertunjukan musik Jawa, pembacaan puisi, seni akustik, literasi budaya dan lingkungan, hingga seni tubuh yang memadukan goresan warna dengan interaksi antara seniman dan penonton.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga wadah bertukar gagasan dan membangun hubungan antarseniman dari berbagai daerah. Melalui kreativitas, para peserta menyampaikan pesan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Seni Tubuh Menjadi Media Ekspresi dan Interaksi
Salah satu bentuk ekspresi yang ditampilkan dalam Waringin Sasmita 2 adalah seni tubuh, yang menjadikan tubuh sebagai kanvas hidup. Warna, goresan, gerak, dan interaksi menjadi bagian dari proses kreatif yang mempertemukan seniman dengan penikmat seni secara langsung.
Seni tidak lagi terbatas pada lukisan di atas kanvas atau karya yang dipajang di galeri. Dalam ruang pertunjukan ini, seni hadir melalui pengalaman langsung yang melibatkan manusia sebagai bagian dari proses penciptaan makna.
Ketika penonton ikut berinteraksi, batas antara pelaku seni dan penikmat seni menjadi lebih cair. Meski demikian, kebebasan berekspresi tetap perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tubuh, martabat, persetujuan, dan kenyamanan setiap orang.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang dialog yang terbuka, tempat perbedaan ekspresi dihargai tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Ipunk Rimba Raya: Orang Seni Itu Kaya Akan Saudara
Ketua panitia Waringin Sasmita 2, Ipunk Rimba Raya, menyampaikan filosofi sederhana yang menggambarkan semangat kebersamaan dalam kegiatan tersebut.
“Orang seni itu kaya, kaya akan saudara,” ungkap Ipunk.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kekayaan seorang seniman tidak selalu diukur dari materi, popularitas, atau kemegahan panggung. Kekayaan juga tumbuh dari hubungan persaudaraan, pengalaman, dan jaringan pertemanan yang terbangun melalui proses berkesenian.
Seniman bisa datang dengan segala keterbatasan, tetapi pulang membawa pengalaman baru dan persahabatan dari berbagai penjuru daerah. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi salah satu kekuatan komunitas seni dalam menjaga keberlangsungan kegiatan kebudayaan.
Seni bukan semata-mata tentang siapa yang paling menonjol di atas panggung, melainkan juga tentang bagaimana setiap orang saling menghargai dan merangkul setelah pertunjukan berakhir.
Tepuk tangan mungkin berhenti dan panggung pada akhirnya menjadi sunyi. Namun, persaudaraan yang tumbuh melalui kesenian diharapkan tetap terjaga.
Jaga Jagad, Pesan untuk Merawat Alam dan Kebudayaan
Tema “Jaga Jagad” dalam Waringin Sasmita 2 mengandung pesan tentang tanggung jawab manusia dalam merawat alam, melestarikan kebudayaan, dan memanusiakan sesama.
Menjaga jagad bukan hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga upaya mempertahankan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Kepedulian terhadap alam perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Begitu pula pelestarian kebudayaan yang tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan, tetapi harus disertai upaya menjaga nilai luhur, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Semangat tersebut menjadi relevan ketika berbagai persoalan lingkungan dan tantangan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas.
Melalui musik Jawa, puisi, seni akustik, seni tubuh, serta literasi budaya dan lingkungan, Waringin Sasmita 2 mengajak masyarakat memandang seni sebagai sarana refleksi sekaligus media penyampaian gagasan.
Seni dapat menjadi jembatan untuk membicarakan persoalan sosial, membangun kesadaran bersama, dan mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kehidupan di sekitarnya.
Waringin Sasmita 2 Digelar melalui Swadaya Seniman
Menurut pihak panitia, pelaksanaan Waringin Sasmita 2 didukung oleh swadaya masyarakat dan para seniman tanpa campur tangan pemerintah. Semangat gotong royong tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan sumber daya tidak selalu menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menghidupkan ruang-ruang kebudayaan.
Kemandirian komunitas seni merupakan modal penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan kreatif. Melalui kerja sama, partisipasi, dan kepedulian bersama, para seniman dapat menghadirkan ruang ekspresi yang terbuka bagi masyarakat.
Di sisi lain, inisiatif masyarakat juga dapat berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah terhadap pelestarian seni dan kebudayaan. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar ekosistem seni tumbuh secara berkelanjutan dan semakin mudah diakses oleh masyarakat.
Dengan demikian, semangat swadaya tidak hanya mencerminkan kemandirian, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan kebudayaan.
Seni Menyatukan Manusia, Budaya Menjaga Jati Diri
Waringin Sasmita 2 di Goa Selomangleng, Kediri, bukan sekadar perhelatan seni, melainkan juga ruang untuk memperkuat persaudaraan, merawat identitas budaya, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Kehadiran seniman dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa kesenian mampu melampaui batas geografis. Perbedaan latar belakang justru menjadi kekayaan yang memperluas perspektif dan mempererat hubungan antarmanusia.
Pesan yang diusung melalui tema “Jaga Jagad” mengingatkan bahwa pelestarian alam, kebudayaan, dan nilai kemanusiaan merupakan tanggung jawab bersama.
Orang seni mungkin tidak selalu kaya harta, tetapi dapat kaya saudara. Panggung boleh sederhana dan bentuk karya boleh beragam, tetapi kreativitas serta persaudaraan mampu menyatukan orang-orang dari berbagai kota dan daerah.
Sebab, seni menyatukan manusia, budaya menjaga jati diri, dan kepedulian merawat jagad. Pertunjukan boleh berakhir, tetapi tanggung jawab menjaga alam, melestarikan kebudayaan, dan memanusiakan manusia harus terus berjalan.
Haryo
