Gambar infografis menampilkan angka USD/IDR di level 18.047, naik 25 poin atau 0,14%.
JAKARTA | METROTV.asia — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.036 per dolar AS, sebelum bergerak turun hingga menyentuh Rp18.047 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.21 WIB, rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menambah tekanan terhadap mata uang domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan sentimen investor, serta perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Pengamat pasar uang Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami tekanan terhadap dolar AS. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan BI yang tidak menaikkan suku bunga acuan pada Rabu (21/10/2026).
Keputusan tersebut dinilai di luar ekspektasi sebagian pelaku pasar. Pasalnya, suku bunga acuan merupakan salah satu instrumen penting dalam kebijakan moneter yang turut memengaruhi daya tarik investasi, aliran modal, dan stabilitas nilai tukar.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS setelah BI di luar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin,” kata Lukman.
Meski demikian, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan suku bunga. Kondisi pasar keuangan internasional, arus modal asing, perkembangan ekonomi global, serta dinamika geopolitik juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan investor.
Sentimen Pasar Saham Jadi Penentu
Lukman menjelaskan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan pasar saham atau ekuitas. Apabila sentimen di pasar saham kembali membaik, tekanan terhadap rupiah berpeluang mereda.
Perbaikan sentimen tersebut juga berpotensi mendorong penguatan rupiah, terutama apabila diikuti aliran modal yang mendukung aset keuangan domestik.
“Fokus investor masih pada sentimen di pasar ekuitas yang apabila kembali membaik dapat menahan pelemahan atau bahkan menguatkan rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, investor turut memperhatikan laporan dan rumor mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Perkembangan hubungan kedua negara menjadi salah satu faktor geopolitik yang dapat memengaruhi persepsi risiko investor global. Situasi tersebut juga berpotensi berdampak terhadap harga energi dan pergerakan mata uang di pasar internasional.
Meski demikian, pengaruhnya terhadap rupiah akan bergantung pada perkembangan aktual serta bagaimana pasar merespons setiap informasi yang muncul.
Rupiah Bergerak di Tengah Volatilitas
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Sementara itu, data Bloomberg yang dikutip dalam laporan perdagangan pagi menunjukkan rupiah berada pada kisaran Rp18.030 hingga Rp18.054 per dolar AS.
Perbedaan antara rentang proyeksi dan pergerakan aktual tersebut menunjukkan bahwa dinamika pasar dapat berubah sepanjang sesi perdagangan. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan nilai tukar secara berkala.
Bloomberg juga mencatat rupiah mengalami pelemahan sebesar 8,20 persen sejak awal tahun atau secara year-to-date (YTD). Dalam periode 52 minggu terakhir, nilai tukar rupiah bergerak pada rentang Rp16.566 hingga Rp18.209 per dolar AS.
Data tersebut menggambarkan tekanan yang dialami rupiah sepanjang periode pengamatan. Namun, arah pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada kombinasi faktor domestik dan eksternal.
Dampak terhadap Ekonomi dan Daya Beli
Pelemahan rupiah menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha karena dapat meningkatkan biaya pembelian barang impor serta bahan baku yang menggunakan dolar AS.
Apabila tekanan nilai tukar berlangsung dalam waktu lama, kenaikan biaya impor berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa di dalam negeri. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat, meskipun besarnya dampak bergantung pada struktur biaya, kebijakan harga, dan kondisi permintaan.
Bagi dunia usaha, stabilitas kurs menjadi penting untuk menjaga kepastian biaya produksi, perencanaan bisnis, serta kelancaran perdagangan internasional.
Sementara itu, masyarakat perlu mencermati perkembangan nilai tukar karena pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memengaruhi harga sejumlah produk, khususnya barang yang bergantung pada bahan baku impor.
Ke depan, pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter BI, kondisi pasar keuangan global, aliran modal asing, serta perkembangan geopolitik. Respons investor terhadap berbagai faktor tersebut akan menjadi salah satu penentu arah nilai tukar rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Penulis: Habib Inga
